Jumat, 12 Maret 2010

Bahasa Indonesia - Puisi Baru

PUISI BARU

A. Pengertian Puisi

Dalam kesastraan Indonesia dikenal dua istilah yang sering dicampuradukkan, yaitu sajak dan puisi. Istilah puisi berasal dari kata “poezie” (Belanda). Dalam bahasa Jerman istilah Gedicht yang berarti sajak. Di dalam bahasa Inggris puisi dikenal dengan nama “poetry” yang dianggap sebagai salah satu nama jenis sastra. Jadi, istilah puisi lebih bersifat general jenisnya.

1. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)

Puisi adalah karya sastra indah yang berbentuk sajak, penulisannya terikat pada aturan tertentu.

2. Pengertian Puisi

a. Puisi adalah Ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

b. Puisi adalah media ekspresi yang tepat dalam mengungkapkan pikiran dan perasaan kita.

Secara sederhana, batang tubuh puisi terbentuk dari beberapa unsur, yaitu kata, larik, bait, rima, dan makna. Secara singkat bisa diuraikan sebagai berikut :

a. Kata adalah unsur utama dalam sebuah puisi.

b. Larik bisa berupa satu kata, frase, maupun kalimat yang terdapat pada sebuah puisi.

c. Bait merupakan kumpulan larik yang tersusun harmonis yang memiliki kesatuan makna.

d. Rima adalah bunyi-bunyi yang ditimbulkan oleh huruf atau kata-kata dalam larik dan bait.

e. Makna adalah unsur dari pemilihan kata, pembentukan larik dan bait. Makna bisa menjadi isi dan pesan dari puisi tersebut.

B. Pembagian Puisi

1. Puisi Lama

Karya sastra yang penulisannya masih terkait dengan aturan lama.

2. Puisi Baru

Sebuah karya sastra yang berbentuk bebas tetapi penulisannya tidak terkait lagi oleh aturan tertentu dan berbeda dengan puisi lama.

C. Ciri-ciri Puisi Baru

1. Jumlah baris dalam tiap bait bebas.

2. Rima lebih bebas

3. Irama lebih jelas

4. Pilihan kata (diksi) bebas

5. Nama pengarang dicantumkan

6. Bentuknya rapi simetris

7. Mempunyai persajakan akhir yang teratur

8. Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain.

9. Sebagian besar puisi empat bait.

10. Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis).

11. Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) antara 4-5 suku kata.

D. Pembagian Puisi Baru

Puisi Baru terdiri atas tiga, antara lain :

1. Menurut Bentuknya

2. Menurut Isinya

3. Menurut Kata Yang Digunakan

E. Puisi Baru Menurut Bentuknya

Puisi baru menurut bentuknya terbagi atas beberapa macam, antara lain :

1. Diskotin

Penjelasan :

• 2 baris; sajak 2 seuntai
• Distikon (Greek: 2 baris)
• Rima – aa – bb

Contoh :
Berkali kita gagal
Ulangi lagi dan cari akal


Berkali-kali kita jatuh
Kembali berdiri jangan mengeluh


Karya : Or. Mandank

2. Terzina

Penjelasan :

Terzina (Itali: 3 irama)

Contoh :
Dalam ribaan bahagia datang
Tersenyum bagai kencana
Mengharum bagai cendana


Dalam bah’gia cinta tiba melayang
Bersinar bagai matahari
Mewarna bagaikan sari


Karya : Sanusi Pane

3. Quartin

Penjelasan :

• Quatrain (Perancis: 4 baris)
• Pada asalnya ada 4 rangkap
• Dipelopori di Malaysia oleh Mahsuri S.N.

Contoh :
Mendatang-datang jua
Kenangan masa lampau
Menghilang muncul jua
Yang dulu sinau silau


Membayang rupa jua
Adi kanda lama lalu
Membuat hati jua
Layu lipu rindu-sendu


Karya : A.M. Daeng Myala

4. Quint

Penjelasan :

Pada asalnya, rima Quint adalah /aaaaa/ tetapi kini 5 baris dalam serangkap diterima umum sebagai Quint (perubahan ini dikatakan berpunca dari kesukaran penyair untuk membina rima /aaaaa/

Contoh :
Hanya Kepada Tuan
Satu-satu perasaan
Hanya dapat saya katakan
Kepada tuan
Yang pernah merasakan


Satu-satu kegelisahan
Yang saya serahkan
Hanya dapat saya kisahkan
Kepada tuan
Yang pernah diresah gelisahkan


Satu-satu kenyataan
Yang bisa dirasakan
Hanya dapat saya nyatakan
Kepada tuan
Yang enggan menerima kenyataan

Karya : Or. Mandank

5. Sextet

Penjelasan :

• sextet (latin: 6 baris)
• Dikenali sebagai ‘terzina ganda dua’
• Rima akhir bebas

Contoh :
Merindu Bagia
Jika hari’lah tengah malam
Angin berhenti dari bernafas
Sukma jiwaku rasa tenggelam
Dalam laut tidak terwatas
Menangis hati diiris sedih


Karya : Ipih

6. Septima

Penjelasan :

• septime (Latin: 7 baris)
• Rima akhir bebas

Contoh :
Duduk di pantai tanah yang permai
Tempat gelombang pecah berderai
Berbuih putih di pasir terderai
Tampaklah pulau di lautan hijau
Gunung gemunung bagus rupanya
Ditimpah air mulia tampaknya

Tumpah darahku Indonesia namanya


Karya : Muhammad Yamin

7. Oktaf

Penjelasan :

• Oktaf (Latin: 8 baris)
• Dikenali sebagai ‘double Quatrain’

Contoh :
Awan datang melayang perlahan
Serasa bermimpi, serasa berangan
Bertambah lama, lupa di diri
Bertambah halus akhirnya seri
Dan bentuk menjadi hilang
Dalam langit biru gemilang
Demikian jiwaku lenyap sekarang
Dalam kehidupan teguh tenang


Karya : Sanusi Pane

8. Soneta

Penjelasan :

· Terdiri atas 14 baris

· Terdiri atas 4 bait, yang terdiri atas 2 quatrain dan 2 terzina

· Dua quatrain merupakan sampiran dan merupakan satu kesatuan yang disebut octav.

· Dua terzina merupakan isi dan merupakan satu kesatuan yang disebut isi yang disebut sextet.

· Bagian sampiran biasanya berupa gambaran alam

· Sextet berisi curahan atau jawaban atau kesimpulan daripada apa yang dilukiskan dalam ocvtav , jadi sifatnya subyektif.

· Peralihan dari octav ke sextet disebut volta

· Penambahan baris pada soneta disebut koda.

· Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 – 14 suku kata

· Rima akhirnya adalah a – b – b – a, a – b – b – a, c – d – c, d – c – d.

Contoh :
Perasaan siapa ta ‘kan nyala
Melihat anak berelagu dendang
Seorang saja di tengah padang
Tiada berbaju buka kepala
Beginilah nasib anak gembala
Berteduh di bawah kayu nan rindang
Semenjak pagi meninggalkan kandang
Pulang ke rumah di senja kala
Jauh sedikit sesayup sampai
Terdengar olehku bunyi serunai
Melagukan alam nan molek permai
Wahai gembala di segara hijau
Mendengarkan puputmu menurutkan kerbau
Maulah aku menurutkan dikau


Karya : Muhammad Yamin

9. Puisi bebas

Penjelasan :

Puisi yang jumlah baitnya tidak terbatas atau bebas

Contoh :

Tuhanku

Dalam termangu

Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah Sungguh

Mengingat Kau penuh seluruh

Cahaya-Mu panas suci

Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

Aku hilang bentuk

Remuk

Tuhanku

Di pintu-Mu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

Karya : Chairil Anwar

F. Puisi Baru Menurut Isinya

Puisi baru menurut isinyanya terbagi atas beberapa macam, antara lain :

1. Balada

Penjelasan :

1. Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.

2. Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya.

Contoh :

Betapa sering di sore hari

Kami berjumpa di pojok jalan ini

Menyajikan senyum dia menghormati mesra sekali

Sambil mengetam bunga-bunga; Apa kabar saudara?

Kemudian kami jarang berjumpa

Hidupku disibuki zaman yang sukar ini

Tapi penggantinya tadi menuding ke arah sana

Bawah cemara kini kuburnya alangkah sunyi.

2. Hymne

Penjelasan :

1. Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan.

2. Lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau alma mater (Pemandu di Dunia Sastra).
Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernafaskan ke-Tuhan-an.

Contoh :

Bahkan batu-batu yang keras dan bisu,

mengaggungkan nama-Mu dengan cara sendiri,

menggeliat derita pada lekuk dan liku,

bawah sayatan khianat dan dusta,

dengan hikmat selalu aku pandang patung-Mu,

menitikkan darah dari tangan kaki,

dari mahkota dan membulan paku,

yang dikarati oleh dosa manusia,

tanpa luka yang lebar terbuka,

dunia kehilangan sumber kasih,

besarlah mereka yang dalam nestapa,

mengenal-Mu tersalib di dalam hati.

3. Roman

Penjelasan :

1. Roman adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.

2. keindahan perasaan, kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra.

Contoh :

Terbesit bayangan ayu wajahmu

Terbias cinta dan kasih putih

Seketika rindu merajam

Meluruhkan hati tak tertahankan hasrat ingin berjumpa

Menabur mimpi menuai harapan

Berharap kau jadi milikku selamanya

Tak dapat disangkal lagi

Engkau memang untukku

Biarlah badai melanda cinta kita

Berbekal percaya kita mampu melewati

Menuju kebahagiaan sejati

Yang selalu kita rindukan.

4. Ode

Penjelasan :

1. Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.

2. Ciri ode nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.

Contoh :

Generasi sekarang,

di atas puncak gunung fantasi,

berdiri aku dan dari sana.

Memandang ke bawah, ke tempat berjuang,

generasi sekarang di panjang masa.

Menciptakan kemegahan baru,

pantoen keindahan Indonesia.

Yang menjadi kenang-kenangan,

pada zaman dalam dunia.

5. Epigram

Penjelasan :

1. Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.

2. Epigramma (Greek); unsur pengajaran; didiktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman dan teladan.

Contoh :

Hari ini tak ada tempat berdiri

Sikap lamban berarti mati

Siapa yang bergerak, merekalah yang di depan

Yang menunggu sejenak sekalipun pasti tergilas.

6. Elegi

Penjelasan :

1. Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.

2. Sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.

Contoh :

Ini kali tidak ada yang mencari cinta,

diantara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang tali-temali.

Kapal, perahu tiada berlaut,

Menghembus dari dalam mempercaya mau berpaut.

7. Satire

Penjelasan :

1. Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik.

2. kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan (ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim etc)

Contoh :

Aku bertanya tetapi pertanyaan-pertanyaanku,

membentur jidad penyair-penyair salon,

yang bersajak tentang anggur dan rembulan,

sementara ketidakadilan terjadi

di sampingnya,

dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan,

termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

G. Puisi Baru Menurut Penggunaan Kata

Puisi baru menurut isinyanya terbagi atas beberapa macam, antara lain :

1. Puisi Diaphan

Penjelasan :

Puisi yang menggunakan kata-kata secara terbuka sehingga isi puisi mudah dipahami.

Contoh :

Kami duduk berdua

Di bangku halaman rumahnya

Pohon jambu di halaman rumah itu

Berbuah dengan lebatnya

Dan kami senang memandangnya

Angin yang lewat

Memainkan daun yang berguguran

2. Puisi Prismatis

Penjelasan :

Puisi yang banyak menggunakan kata-kata sebagai pelambang kiasan.

Contoh :

Pada jam ke-24

Kota seperti kiamat

Sydney telah terkunci

Dalam gelas pagi

Ada bulan mengukur luas

Laut dan musik panas

Ada beton membentang bentuk

Ada bayang hanya merunduk

H. Cara Membuat Puisi

Cara-cara pembuatan puisi berikut ini disusun secara akrostik, dengan menggunakan huruf-huruf awal dalam kata ”Puisi”, antara lain sebagai berikut :

1. Huruf ”P”

Pikiran dan Perasaan

Keinginan menulis sebuah puisi biasanya diawali oleh munculnya gagasan. Gagasan tiba-tiba melintas begitu saja ketika perhatian kita tertuju pada suatu objek atau pengalaman. Apa yang ditangkap oleh mata dan telinga, mengkristal dalam pikiran kita hingga menjadi sebuah tema. Dari gagasan yang mengkristal menjadi tema itu kemudian diterjemahkan oleh perasaan untuk diungkapkan dengan bahasa.

2. Huruf ”U”

Ungkapan

Apa yang ada di pikiran dan perasaan tadi mulailah kita ungkapkan ke dalam kata-kata. Sebagai alat ekspresi, maka kata-kata harus betul-betul bisa mengungkapkan apa yang ada di kepala dan hati tadi. Untuk itulah, mulailah sebuah proses pemilihan kata (diksi). Proses ini biasanya dianggap bagian paling sulit dalam pembuatan puisi karena tidak mudah dan cepat untuk menemukan kata-kata yang sesuai.

3. Huruf ”I”

Interpertasi

Ketika kita menemukan sejumlah kata, maka proses yang mengiringinya adalah mencoba menginterpretasikan atau membuat penafsiran terlebih dahulu apakah kata-kata yang kita pilih itu mempunyai makna yang sesuai dengan keinginan kita. Untuk itu, kembali kita lihat bagaimana hubungan antarkata hingga menjadi bait, dan hubungan antar bait, termasuk pemengalannya (anyambemen) hingga sesuai dengan tema yang ada dalam pikiran dan perasaan kita.

4. Huruf ”S”

Sajak

Sebuah puisi identik dengan bunyi (sajak). Persamaan atau perbedaan bunyi itu timbul dari huruf atau kata-kata dalam puisi tersebut jika dibaca. Dari bunyi-bunyi yang muncul itulah keindahan puisi bisa dirasakan. Untuk itulah, kata-kata yang sudah kita temukan dan pilihan tadi harus kembali direkonstruksi agar muncul persajakannya. Dari sinilah akan terlihat berbagai macam rima dalam puisi kita.

5. Huruf ”I”

Indah

Kesempurnaan sebuah puisi adalah ketika pikiran dan perasaan kita dapat terwakili dengan pas dan sesuai oleh kata-kata yang terpilih dan menimbulkan bunyi-bunyi yang indah. Ada kepuasan tersendiri ketika puisi yang kita buat sudahmampu memenuhi keinginan kita dan mampu menarik perhatian bagi penikmatnya karena keindahannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar